Entri yang Diunggulkan

tata cara sholat dhuha

Sholat Dhuha ini merupakan sholat sunah yang dikerjakan pada waktu dhuha. Waktu dhuha ialah dimana matahari terbit dipagi hari sekitar 7 h...

Kamis, 20 Oktober 2016

Tajwid Al-Qur'an

Tanda waqaf dalam Al-Qur'an yang banyak ditemui...

1. Tanda mim ( مـ ) disebut juga dgn Waqaf Lazim. yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna. Wakaf Lazim disebut juga Wakaf Taamm (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim ( م ), memiliki kemiripan dgn tanda tajwid iqlab, namun sangat jauh berbeda dgn fungsi dan maksudnya;
2. tanda tho ( ﻁ ) adalah tanda Waqaf Mutlaq dan haruslah berhenti.
3.tanda jim ( ﺝ ) adalah Waqaf Jaiz. Lebih baik berhenti seketika di sini walaupun di perbolehkan juga utk tidak berhenti.
4. tanda zha ( ﻇ ) mempunyai makna lebih baik tidak berhenti
5. tanda sad ( ﺹ ) disebut juga dgn Waqaf Murakhkhas, menunjukkan bahwa lebih baik untuk tdk berhenti namun di perbolehkan berhenti saat darurat tanpa merubah maknanya. Perbedaan antara hukum tanda zha dan sad adalah pada fungsinya, dlm kata lain lebih di perbolehkan berhenti pada waqaf sad
6. tanda sad-lam-ya’ ( صلى ) merupakan singkatan dari “Al-washl Awlaa” yg mempunyai arti “wasal atau meneruskan bacaan adalah lebih baik”, oleh karena itu meneruskan bacaan tanpa mewaqafkannya adalah lebih baik;
7. tanda qaf ( ﻕ ) merupakan singkatan dari “Qiila alayhil waqf” yg mempunyai makna “telah di nyatakan boleh berhenti pada wakaf sebelumnya”, oleh karena itu lebih baik meneruskan bacaan walaupun boleh diwaqafkan
8. tanda sad-lam ( صل ) merupakan singkatan dari “Qad yuushalu” yg mempunyai makna “kadang kala boleh diwasalkan”, oleh karena itu lebih baik berhenti walaupun kadang kala boleh diwasalkan
9. tanda Qif ( قيف) mempunyai maksud berhenti! yaitu lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda tersebut biasanya muncul pada kalimat yg biasanya si pembaca akan meneruskannya tanpa berhenti
10. tanda sin ( س ) atau tanda Saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ) menandakan berhenti seketika tanpa mengambil napas. Dgn kata lain, si pembaca haruslah berhenti seketika tanpa mengambil napas baru untuk meneruskan bacaan
11. tanda Waqfah ( وقفه ) mempunyai maksud sama seperti waqaf saktah ( سكته ), namun harus berhenti lebih lama tanpa mengambil napas
12. tanda Laa ( ﻻ ) mempunyai maksud “Jangan berhenti!”. Tanda ini muncul kadang-kadang pada akhir maupun pertengahan ayat. Apabila tanda laa ( ﻻ ) muncul di pertengahan ayat, maka tidak di benarkan utk berhenti dan jika berada di akhir ayat, si pembaca tersebut boleh berhenti atau tidak
13. tanda kaf ( ﻙ ) merupakan singkatan dari “Kadzaalik” yg mempunyai arti “serupa”. Dgn kata lain, arti dari waqaf ini serupa dgn waqaf yg sebelumnya muncul.
14. tanda bertitik tiga ( … …) yg disebut sebagai Waqaf Muraqabah atau Waqaf Ta’anuq (Terikat). Waqaf ini akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membacanya adalah harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya.

Nah itulah sedikit hukum bacaan tajwid yang bisa saya sampaikan semoga anda dapat memahaminya, apabila kurang faham sebaiknya carilah kyai atau ustad yang dapat mengajarkan kepada anda lebih detailnya lagi tentang hukum bacaan tajwid. Berikut video membaca alquran yang baik dan benar.


Senin, 17 Oktober 2016

tata cara sholat dhuha

Sholat Dhuha

ini merupakan sholat sunah yang dikerjakan pada waktu dhuha. Waktu dhuha ialah dimana matahari terbit dipagi hari sekitar 7 hasta hingga menjelang shalat dzuhur, atau sekitar jam 7 pagi hingga jam 11 siang. Namun penentuan waktu tersebut tetap tergantung dimana anda berada saat itu, dikarenakan  posisi matahari pada setiap daerah itu berbeda-beda. Sholat dhuha dilakukan secara sendiri atau tidak berjamaah dan sebaiknya dilakukan pada saat seperempat kedua dalam sehari atau sekitar jam sembilan pagi.
Sholat Dhuha dilakukan dalam satuan dua rokaat satu kali salam, sementara itu untuk berapa jumlah maksimal mengenai Sholat Dhuha ini pendapat dari masing-masing ulama berbeda-beda, ada yang mengatakan maksimal 8 rokaat,ada yang maksimal 12 rokaat, dan  ada juga yang berpendapat tidak ada batasan mengenai jumlah rakaatnya.  Mengenai hal tersebut , kita tidak perlu ikut pusing memikirkan mengenai berapa jumlah maksimal rokaat untuk melakukan sholat Dhuha, dikarenakan ALLAH SWT tidak pernah melarang hambanya untuk banyak banyak beribadah kepadanya, jadi lakukanlah semampu kita.


Tata Cara Menjalankan Sholat Dhuha

pertama kita lakukan adalah niat Sholat Dhuha, seperti ini bacaanya: Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa . “artinya : Aku niat Sholat Dhuha 2 rokaat karena ALLAH”
Setelah membaca niat seperti yang diatas, lalu baca takbir,
Membaca surat Al Fatihah
Membaca satu surat didalam Alqur’an, alangkah baiknya rokaat pertama membaca surat Asy-Syam dan rokaat kedua surat Al Lail
Ruku’ sambil membaca tasbih sebanyak 3x
I’tidal serta mambaca bacaanya
Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
Duduk diantara dua sujud serta membaca bacaanya
Sejud kedua dan membaca tasbih tiga kali
Setelah rokaat pertama selesai , lakukan rokaat kedua sebagaimana cara diatas.
Kemudian tasyahud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali.  Dan rokaat rokaat selanjutanya dilakukan sama seperti contoh diatas.

Mungkin tata cara Sholat Dhuha tidak jauh beda dengan sholat sunah pada umunya, namun yang membedakanya ialah niat yang diucapkan serta bacaan surat di dalam Al qur’an yang harus dibaca.

➡ Do’a Sholat Dhuha


bagi anda yang belum bisa membaca tulisan Arab, bisa membaca tekst latin di bawah ini
Allahumma innadh dhuha-a dhuha-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. Allahuma inkaana rizqi fis samma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’asaran fayassirhu, wainkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqiduhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatini maa ataita ‘ibadakash shalihin.
 Arti dari bacaan do’a sholat dhuha
“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.

Jumat, 14 Oktober 2016

Doa untuk kedua Orangtua

do'a hamba


رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّوَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِـيْراً



Artinya> Ya Allah ampunkanlah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba dan kasihilah Kedua orang tua hamba seperti saat mereka mengasihi hamba waktu kecil ... !

Jumat, 30 September 2016

surat Al-Humazah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ⚪ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ⚪  يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ⚪ كَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلۡحُطَمَةِ⚪ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ⚪ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ⚪ ٱلَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةِ⚪ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ⚪ فِي عَمَدٖ مُّمَدَّدَةِۢ

surat Al-Humazah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ⚪ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ⚪  يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ⚪ كَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلۡحُطَمَةِ⚪ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ⚪ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ⚪ ٱلَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةِ⚪ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ⚪ فِي عَمَدٖ مُّمَدَّدَةِۢ

surat Al-Ikhlas ,Arti dan Maknanya


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ⚪ قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ⚪ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ⚪ لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ⚪ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ........

Artinya dan maknanya:
Qul huwallahu ahad artinya: "Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa Allah yang Maha Esa."
Allahu somad artinya adalah bahwa Allah merupakan tempat atau Tuhan untuk bergantung dari segala sesuatu yang ada di alam semesta.
Lam yalid walam yulad artinya adalah Dia (baca: Allah) tidak beranak dan juga tidak diperanakkan.
walam yakullahu kufuwan ahad artinya adalah bahwa tidak ada seorang (atau makhluk) pun yang setara (sebanding) dengan-Nya.

Kamis, 22 September 2016

surat AL QARI'AH

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ⚪ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ⚪  يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ⚪ كَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلۡحُطَمَةِ⚪ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ⚪ نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ⚪ ٱلَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةِ⚪ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٞ⚪ فِي عَمَدٖ مُّمَدَّدَةِۢ

tafsir surat AL-A'RAF 11-15

Tafsir & Penjelasan Tentang Iblis dan Jin yang Tidak Mau Bersujud Kepada Adam dan Sebab-sebab Iblis Diusir dari Surga

➡ Ayat ke 11-12

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَٰكُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنَٰكُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ لَمۡ يَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ⚪ قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ⚪ قَالَ فَٱهۡبِطۡ مِنۡهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ⚪ قَالَ أَنظِرۡنِيٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ⚪ قَالَ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ⚪

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. (7: 11)
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (7: 12)
Pada penjelasan ayat-ayat sebelumnya, telah disinggung tentang berbagai nikmat Allah Swt yang telah dimanfaatkan oleh manusia untuk kehidupannya. Sedang ayat-ayat ini menyinggung kedudukan manusia dalam permulaan penciptaannya. Ayat ini menyatakan bahwa bukan hanya bumi, tetapi penduduk langit dan para malaikat juga tunduk di hadapan manusia  yang disimbolkan oleh Adam as. Mereka menghormati kemuliaan manusia yang sangat tinggi. Hal itu terlihat dari adanya perintah Allah Swt kepada para malaikat-Nya agar bersujud kepada Adam as. Namun Iblis ternyata tidak mau patuh. Dengan sifat kepalanya, Iblis menentang perintah Tuhan tersebut. Dari ayat-ayat al-Quran yang lain dapat kita ketahui bahwa Iblis berasal dari bangsa Jin yang dari segi ibadah mereka berada di tingkat barisan para malaikat. Akan tetapi, perintah sujud ini tetap berlaku bagi iblis.
Iblis tidak hanya menentang perintah Allah Swt. Ia bahkan tidak mau meminta maaf dan merasa menyesal. Ia menjustifikasi tindakannya dengan mengatakan, "Aku Kau jadikan dari api, sedang Adam Kau jadikan dari tanah. Maka, apilah yang lebih utama bila dibandingkan dengan tanah". Padahal, perintah Allah untuk sujud kepada Adam itu bukan dikarenakan kedudukan material Adam, sehingga Iblis berhak untuk menjustifikasi dirinya semacam ini, melainkan dikarenakan kemuliaan dan kehormatan spiritual Adam. Maka,lenyaplah jiwa spiritual pada diri Iblis hingga dia berani bertindak arogan semacam itu. Pada dasarnya, setiap makhluk bila berhadapan dengan perintah Allah yang jelas semacam itu, seperti perintah untuk bersujud kepada Adam, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk menentangnya.
Melalui tindakannya ini, Iblis seolah-olah mengatakan semacam ini, "Dalam hal ini, aku lebih mengetahui pada Tuhan. Perintah Tuhan untuk sujud kepada Adam itu adalah sebuah kesalahan!" Sayangnya, kadang-kadang kita juga dalam kehidupan sehari-hari, saat berhadapan dengan hukum dan perintah Allah Swt, sering menimbangnya dengan akal. Yaitu apakah kita terima aturan Tuhan ini atau kita tolak karena kita merasa mengetahui hikmah dari hukum-hukum syariat itu. Padahal, akal kita sangatlah terbatas untuk mengetahui hikmah-hikmah yang terkandung di balik sebuah hukum. Karenanya, yang harus dilakukan oleh seorang hamba adalah taat terhadap hukum Tuhan tersebut.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Manusia memiliki potensi dan kelayakan untuk sampai pada suatu kedudukan yang lebih dari kedudukan para malaikat.
2. Sujudnya seluruh malaikat sujud kepada manusia atas perintah Allah adalah tanda kemuliaan manusia, bukan tanda bahwa ia adalah  Tuhan yang layak disembah. Karenanya, fenomena ini bukan berarti manusia tidak perlu sujud kepada Allah dan tidak melaksanakan perintah-Nya.
3. Ciri-ciri fisik dan ras bukan merupakan dalil bahwa seseorang lebih mulia dibandingkan pihak lain. Begitu juga dengan usia dan pengalaman. Tolok ukur kemuliaan seseorang terletak pada ketaatannya di hadapan perintah Allah.
4. Adalah sangat mengherankan jika sampai ada manusia yang mengikuti perintah setan. Padahal, dulu  justru setan yang tidak mau bersujud kepada manusia
Ayat ke 13
Artinya:
Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (7: 13)
Ayat ini menyinggung akar ketidakpatuhan setan terhadap perintah yaitu takabur dan mengaggap tinggi diri lebih tinggi. Menurut al-Quran, setan telah memperoleh kedudukan yang tinggi sebagai hamba Allah yang telah ditempuhnya selama bertahun-tahun. Akan tetapi, disebabkan  kecongkakan dan ketidak patuhannya terhadap perintah Allah, maka ia telah mengeluarkan Iblis dan Setan dari barisan para malaikat dan menjadikan mereka sebagai makhluk hina. Jadi, menurut ayat ini, itulah akibat takabur dan congkak. Dalam sebuah hadisnya, Nabi Muhammad Saw bersabda,  "Siapapun yang bertawadhu dan  rendah hati, maka Allah Swt akan mengangkat orang tersebut ke derajat yang tinggi. Sebaliknya, orang yang selalu takabur dan bangga atas dirinya sendiri, maka mereka akan menjadi terhina, dan pada Hari Kiamat, mereka akan terinjak-injak di padang Mahsyar nanti"
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Ilmu dan ibadah semata-mata tidak bisa menjadi penyelamat. Tetapi, taat kepada Allah tetap merupakan suatu keharusan. Setan juga beriman dan telah beribadah kepada Tuhan, tetapi dikarena dia tidak siap untuk taat dan patuh di hadapan perintah-perintah Allah, maka dia pun dikeluarkan dari surga.
2. Takabur dan merasa berbesar diri, telah menyebabkan hancur dan musnahnya segala amal-amal baik manusia, sehingga melemparkan mereka ke tingkat serendah-rendahnya.
Ayat ke 14-15
Artinya:
Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". (7: 14)
Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh". (7: 15)
Setelah Iblis dikeluarkan dari sisi Allah Swt, dia kemudian meminta kepada Tuhan agar diberi kesempatan dan waktu untuk hidup, hingga Hari Kiamat nanti. Allah meluluskan permintaannya serta memberinya kesempatan untuk hidup sampai Hari Kiamat. Di sinilah sebuah pertanyaan layak untuk dikemukakan, mengapa Allah Swt memberi kesempatan dan waktu kepada setan? Dalam menjawab pertanyaan ini, harus disebutkan bahwa siksa, pembalasan, dan pahala pada Hari Kiamat memang didasarkan sebelumnya pada pemberian kesempatan dan waktu. Oleh karena itu, seluruh pendosa dengan segala kejahatan dan dosa-dosanya sebenarnya diberi kesempatan dan waktu. Adalah keliru jika dikatakan bahwa setiap orang yang telah melakukan dosa besar langsung disiksa.
Selain itu, berdasarkan Sunnatullah dalam hal ujian bagi manusia, baik dan buruknya perbuatan manusia itu harus disertai dengan sebab-sebab dan alasan sehingga ikhtiyar manusia menjadi bermakna. Dari sisi ini, setan merupakan salah satu alat ujian bagi manusia. Setan tidak  dapat menyebabkan seseorang terpaksa melakukan dosa. Perbuatan setan hanyalah membisikan sesuatu atau membuat manusia bimbang dan ragu. Saat itu, ikhtiyar sama sekali tidak lenyap dari manusia.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Allah Swt senantiasa memberikan waktu dan kesempatan bagi para pendosa. Beruntunglah mereka yang mempergunakan waktu ini untuk bertaubat, bukan untuk menambah banyaknya dosa.
2. Setiap umur yang panjang tidak selamanya bernilai dan mulia, karena setan juga berumur panjang. Umur yang panjang akan menjadi kemuliaan bila digunakan dengan cara yang benar dan baik.
3. Iblis mengetahui keberadaan Hari Kiamat.  Akan tetapi, ia seolah-olah tidak mengimaninya secara benar. Karena itu, tidak terpikir olehnya untuk bertaubat atau meminta ampun. (IRIB Indonesia)